MODEL PEMBELAJARAN PADA PENDIDIKAN ANAK USIA DINI
A. Pendahuluan
Anak usia dini menurut UU No 20 tahun 2003 anak yang berusia antara
0 sampai 6 tahun adalah berada dalam masa
pertumbuhan dan perkembangan. Hasil konvensi Jenewa tahun 1979 aspek –aspek
yang harus dikembangkan pada anak usia dini adalah aspek motorik, bahasa,
sosial, emosi, kognisi, moral dan kepribadian. Banyak pertanyaan bagaimana
mengajarkan anak agar semua aspek perkembangan itu dapat terstimulasi dengan
baik. Dalam rangka mengoptimalkan pencapaian tujuan pembelajaran
pada pendidikan anak usia dini yang sesuai dengan aspek
perkembangan, maka
Bredekamp dan copple, 1997 menyatakan bahwa ”pelaksanaan program
pembelajarannya dapat melayani anak dari lahir sampai usia delapan tahun yang
dirancang untuk meningkatkan perkembangan intelektual, sosial, emosional,
bahasa dan fisik anak”. Oleh karena itu, dianjurkan memilih dan
menggunakan model- model pembelajaran yang tepat. Model pembelajaran yang dapat
menstimulasi aspek perkembangan anak secara simultan untuk semua aspek
perkembangan anak adalah dengan pembelajaran tematik. Hendrick
(dalam Kostelnik, 1991) menyatakan pembelajaran tematik dapat membantu anak
mengembangkan semua peikirannya dalam kegiatan belajar, karena dalam
pembelajaran tamatik, anak dapat membangun konsep melalui hubungan di antara
informasi yang satu dengan informasi lainnya (antara satu topik dengan topik
lainya. Jadi dengan pembelajaran tematik, sejak dini anak-anak sudah terlatih
menghubungkan/ mengkaitkan hal yang satu dengan hal lainnya, objek yang satu
dengan objek lainnya. Keterlatihan ini sehingga anak menjadi biasa menghadapi
situasi yang memang adanya saling keterkaitan antara satu masalah dengan
masalah lainnya, yang pada akhirnya anak memiliki kemampuan survive
menghadapi berbagai situasi baru dalam kehidupan nyata. Sebenarnya pembelajaran
tema adalah khas bagi anak usia dini dari jenjang pendidikan anak usia dini
sampai kelas-kelas awal Sekolah Dasar (kelas 1, 2, dan 3). Semua kegiatannya
melibatkan pengalaman langsung bagi anak-anak serta memberikan berbagai
informasi atau pemahaman tentang lingkungan sekitar anak. Kegiatan ini juga
memberikan kesempatan kepada anak untuk mengembangkan keterampilan lebih lanjut
seperti mengendalikan kemampuan motorik halus, mengobservasi, membandingkan,
menyimpulkan, mengingat, menghitung, bermain peran serta mengeksplorasi
gagasan.
Diantara model-model pembelajaran yang dapat membantu
anak mengembangkan semua pikirannya secara holistik dalam kegiatan
belajar, dan sesuai dengan perkembangan anak adalah :
Model pembelajaran kooperatif
Model pembelajaran kontekstual.
Model pembelajaran Moving Play
Pembelajaran
Kooperatif
1. Pengertian.
Pembelajaran kooperatif yang dikenal dengan cooperatif
learning adalah merupakan salah satu bentuk pembelajaran bagi anak usia
dini. Pembelajaran kooperatif adalah merupakan metode pembelajaran yang dalam
pelaksanaanya membagi anak dalam kelompok- kelompok satu dengan yang lain
bekerja sama dan berpartisipasi dalam belajar dan bertanggung jawab satu sama
lain.
Pembelajaran kooperatif banyak digunakan pada
pembelajaran anak usia dini, karena dapat melatih kemampuan kerjasama,
perkembangan sosial anak, dapat melatih rasa tanggung jawab terhadap pekerjaan
yang menjadi tugasnya, membangun kemampuan berinterkasi, berbagi ide, pendapat,
mampu mengendalikan emosi, bersedia memberi dan menerima.
Johnson dan Johnson ( dalam Yudha M. Saputran &
Rudyanto, 2005: 50) menyebutkan bahwa ”sistem pengajaran gotong royong atau
pembelajaran kooperatif dapat didefinisikan sebagai sistem kerja atau kelompok
yang terstruktur termasuk di dalam struktur ini adalah lima unsur pokok yaitu
saling ketergantungan positif, tanggung jawab individu, interkasi personal,
keahlian kerjasama, dan proses kelompok. David, dkk (dalam Slamet Suyanto,
2005: 154) mengidentifikasikan empat elemen dasar dalam belajar kooperatif
yaitu: 1). Adanya saling ketergantungan yang menguntungkan pada siswa dalam
melakukan usaha secara bersama-sama; 2). Adanya interaksi langsung di antara
siswa dalam satu kelompok, 3). Masing-masing siswa memiliki tanggung jawab
untuk bisa menguasai materi yang diajarkan; 4). Pengunaan yang tepat dari
kemampuan interpersonal dan kelompok kecil yang dimiliki oleh setiap siswa.
Wina Sandjaya, 2008 menyampaikan ada empat unsur dalam
kegiatan belajar yang dilakukan oleh anak (siswa) dalam kelompok-kelompok,
yaitu: 1) adanya peserta dalam kelompok, 2) adanya aturan kelompok, 3) adanya
upaya belajar setiap anggota kelompok, dan 4) adanya tujuan yang harus
dicapai.
Peserta adalah siswa (anak) yang melakukan proses pembelajaran dalam setiap
kelompok belajar. Pengelompokkan siswa bisa ditetapkan berdasarkan beberapa
pendekatan, diantaranya pengelompokkan yang didasarkan atas minat dan bakat
siswa (anak), pengelompokkan yang didasarkan atas latar belakang kemampuan.
Pendekatan apapun yang digunakan, tujuan pembelajaran haruslah menjadi
pertimbangan utama.
Aturan kelompok adalah segala sesuatu yang menjadi kesepakatan semua pihak yang
terlibat seperti siswa dengan siswa yang ada dalam kelompok. Seperti pembagian
tugas, waktu bekerja dan lainnya.
Upaya belajar adalah segala aktivitas siswa (anak) untuk
meningkatkan kemampuannya yang telah dimiliki maupun meningkatkan kemampuan
baru, berkaitan dengan kemampuan dalam aspek pengetahuan, sikap, dan
keterampilan. Aktivitas pembelajaran tersebut dilakukan dalam kegiatan
kelompok, sehingga antarpeserta dapat saling membelajarkan melalui tukar pikir,
pengalaman maupun gagasan.
Aspek tujuan dimaksud adalah untuk memberikan arah perencanaan, pelaksanaan,
dan evaluasi. Melalui tujuan yang jelas , setiap anggota kelompok dapat
memahami sasaran setiap kegiatan belajar.
Manfaat dari penggunaan model pembelajaran kooperatif di
atas Slavin (dalan Sanjaya, 2008: 242) menyebutkan ada dua alasan menggunakan
model pembelajaran kooperatif yaitu; (1) beberapa hasil penelitian membuktikan
bahwa penggunaan pembelajaran kooperatif dapat meningkatkan prestasi belajar
siswa sekaligus dapat meningkatkan kemampuan hubungan sosial, menumbuhkan sikap
menerima kekurangan diri dan orang lain, serta dapat meningkatkan harga diri.
(2) pembelajaran kooperatif dapat merealisasikan kebutuhan siswa dalam
belajar berpikir, memecahkan masalah, dan mengintegrasikan pengetahuan dengan
keterampilan.
2. Prinsip-prinsip pembelajaran
Kooperatif.
Dalam penggunaan pembelajaran kooperatif hendaknya memperhatikan prinsip
dasar, seperti yang dikemukan oleh Wina Sandjaya, 2008: 246) yakni:
1. Prinsip
ketergantungan positif (Positive Interdenpendence)
Dalam pembelajaran kelompok, keberhasilan suatu
penyelesaian tugas sangat tergantung kepada usaha yang dilakukan setiap anggota
kelompoknya. Oleh sebab itu, perlu disadari oleh setiap anggota kelompok
keberhasilan penyelesaian tugas kelompok akan ditentukan oleh kinerja
masing-masing anggota. Dengan demikian, semua anggota dalam kelompok akan
merasa saling ketergantungan.
Untuk terciptanya kelompok kerja yang efektif, setiap
anggota kelompok masing-masing perlu membagi tugas sesuai dengan tujuan
kelompoknya. Tugas tersebut tentu saja disesuaikan dengan kemampuan setiap
anggota kelompok. Inilah hakekat ketergantungan positif, artinya tugas kelompok
tidak mungkin bisa diselasaikan manakala ada anggota yang tak bisa
menyelesaikan tugasnya, semuanya memerlukan kerja sama yang baik dari
masing-masing anggota kelompok. Anggota kelompok yang mempunyai kemampuan
lebih, diharapkan maup dan mampu membantu temannya untuk menyelesaikan tugasnya
2. Tanggung jawab
perseorangan (individual Accountablity)
Prinsip ini merupakan konsekwensi dari prinsip pertama.
Oleh karena itu keberhasilan kelompok tergantung pada setiap anggotanya, maka
setiap anggota kelompok harus memiliki tanggung jawab sesuai dengan tugasnya.
Setiap anggota harus memberikanyang terbaik untuk keberhasilan kelompoknya.
Untuk mencapai hal tersebut, guru perlu memberikan penilaian terhadap individu
dan juga kelompok. Pinalain individu bisa berbeda, akan tetapi penilaian
kelompok harus sama.
3. Interaksi Tatap
muka (Face to face Promotion Interaction)
Pembelajaran kooperatif memberi ruang dan kesempatan yang
luas kepada setiap anggota kelompok untuk bertatap muka saling memberikan
informasi dan saling membelajarkan. Interaksi tatap muka akan memberikan
pengalaman yang berharga kepada setiap anggota kelompok untuk bekerja sama,
menghargai setiap perbedaan , memanfaatkan kelebihan masing-masing anggota, dan
mengisi kekurangan masing-masing. Kelompok belajar kooperatif dibentuk secara
heterogen, yang berasal dari budaya, latar belakang sosial, dan kemampuan
akademik yang berbeda. Pebedaan semacam ini akan menjadi modal utama dalam
proses saling memperkaya antar anggota kelompok.
4. Partisipasi dan
komunkasi (participation Communication)
Pembelajaran koopretaif melatif siswa (anak) untuk dapat
mampu berpartisipasi dan berkomunikasi. Kemampuan ini sangat penting sebagai
bekal mereka dalam kehidupan di masyarakat kelak. Oleh karena itu , sebelum
melakukan kooperatif, guru perlu membekali siswa (anak) dengan kemampuan
berkomunikasi. Tidak setiap siswa (anak) mempunyai kemampuan berkomunikasi,
misal kemampuan mendengar dan kemampuan berbicara, padahal keberhasilan
kelompok ditentukan oleh partisipasi setiap anggotanya.
Untuk dapat melakukan partisipasi dan komunikasi , siswa
(anak) perlu dibekali dengan kemampuan-kemampuan berkomunikasi . Misalnya cara
menyatakan ketidaksetujuan atau cara menyanggah pendapat orang lain secara
santun, tidak memojokkan; cara menyampaikan gagasan dan ide-ide yang dianggap
baik dan berguna.
Penggunaan model pembelajaran kooperatif hendaklah memperhatikan
prinsip-prinsip di atas, sebagia acuanya termasuk dalam pelaksanaan
pembelajaran di anak usia dini.
3. Tujuan penerapan pembelajaran
kooperatif adalah:
1. Menyiapkan anak
didik dengan berbagai keterampilan- keterampilan yang sangat bermanfaat bagi
kehidupannya seperti ketrampilan berkomunikasi , berinteraksi, bersosialisasi,
bekerjasama.
2. Memberi
kesempatan kepada anak untuk mengembangkan semua aspek perkembangan, aspek
perkembangan intelektual, aspek hubungan sosial, aspek perkembangan emosi dan
fisiknya.
3. Membangun
wawasan dan pengetahuan anak mengenai konsep benda-benda atau peristiwa
yang ada di lingkungannya.
4. Meningkatkan
prestasi belajar siswa sekaligus dapat meningkatkan kemampuan hubungan sosial,
menumbuhkan sikap menerima kekurangan diri dan orang lain, serta dapat
meningkatkan harga diri
4. Metode pembelajaran kooperatif
Metode pembelajaran yang banyak digunakan dalam pembelajaran di
pendidikan anak usia dini, dan dapat meningkatkan keterampilan anak dalam
penguasaan kemampuan motorik, bahasa, sosial, emosional, kognitif, moral
dan kepribadian diantaranya adalah
1. Metode
Berpasangan
2. Metode
Berkepala bernomor
3. Metode Proyek
4. Metode Jigsaw
(khusus bagi anak usia enam tahun ke atas)
4.1. Metode
Berpasangan
Metode berpasangan adalah merupakan salah satu metode pembelajaran kooperatif
yang banyak digunakan pendidik/ guru PAUD termasuk TK dalam mengembangkan
penguasaan kemampuan motorik, bahasa, sosial, emosional, kognitif, moral dan
kepribadian anak. Metode berpasangan dalam pembelajaran kooperatif di PAUD ada
dengan cara teknik mencari pasangan, dan bertukar pasangan.
a. Teknik Mencari pasangan
Teknik mencari pasangan di rancang dalam suasana bermain. Anak mempelajari
sesuatu harus mencari berpasangan. Pasangan dapat dirancang untuk dua
orang, tiga orang atau empat orang. Pasangan yang dicari oleh setiap anak
adalah temannya yang memiliki kode nomor yang sama (cocok) atau dapat
pula berupa nama, seperti pasangan laki-laki adalah perempuan, pasangan siang
adalah malam, anak yang memiliki nomor satu berpasangan dengan anak yang
memiliki nama buah atau bola yang bernomor satu, begitu seterusnya.
Langkah-langkah menggunakan teknik mencari pasangan
adalah
1. Pendidik
menyiapkan beberapa kartu-kartu yang memiliki pasangan-pasangan baik berupa
nomor atau nama menyangkut tema atau sub tema
2. Kemudian
kartu-kartu tersebut di bagi setiap anak yang terlebih dahulu telah di acak.
Jadi masing-masing anak dapat satu kartu.
3. Selanjutnya
anak mencari pasangannya seperti anak yang bernomor satu mencari temannya yang
memiliki nama atau benda yang bernomor satu, atau anak yang memiliki tulisan
siang mencari pasangan nya yang memegang kartu yang bertulisan malam, begitu
setrusnya
4. Setelah
masing-masing menemukan pasangan, guru/ pendidiknya meminta semua pasangan
untuk membacakan nama kartu atau melihat gambar yang ada pada kartu yang di
pegang masing-masing pasangan mereka, pada kartu tersebut ada petunjuk kerja.
5. Anak bermain
dengan pasangan sesuai petunjuk yang ada pada kartu, dibawah bimbingan
guru/pendidik.
Contoh: Adi mendapat kartu bernomor 1, berarti ia mencari
temannya yang memegang kartu yang juga bernomor satu. Di masing- masing kartu
itu ada gambar kucing yang belum ada warna, maka anak-anak diminta untuk
memberi warna. Dapat juga petunjukkan anak melihat area/ sudut yang ada gambar
kucing berarti anak- anak bermain di area / sudut tersebut, disitu sudah
tersedia krayon dan spidol, kertas gambar kucing yang belum di beri warna.
b. Teknik Bertukar Pasangan
Teknik bertukar pasangan pada pendidikan anak usia dini dapat dirancang untuk
kelompok kecil maupun kelompok besar. Prinsip pembelajaran kooperatif dengan
bertukar pasangan untuk pendidikan anak usia dini dalam suasana bermain adalah
anak di beri kesempatan untuk belajar dengan teman yang bukan pasangan
kelompoknya.
Langkah-langkah yang dapat di tempuh oleh guru/ pendidik PAUD adalah:
1. Pertama guru
membagi anak-anak didiknya dalam kelompok yang berpasangan. Seperti kelompok A,
kelompok B, dan kelompok C, Bisa nama kelompok nama buah atau nama hari dan
lain-lain yang menarik. Anggota kelompok dapat terdiri dari 2 sampai 4 orang
anak.
2. Setiap kelompok
pasangan mendapat tugas yang dikerjakan dapat sama, dapat pula berbeda.
3. Setelah selesai
mengerjakan diserahkan/ ditempel di dinding yang telah disediakan.
4. Kemudian setiap
pasangan kelompok saling bertukar, terbentuk pasangan baru mereka saling
menanyakan dan menyatukan jawaban atau pendapat, sehingga menghasilkan jawaban
yang kemungkinan sama atau berbeda dengan kelompok pasangan awalnya.
5. Kelompok baru
selesai bekerja, guru/ pendidik meminta anak-anak mengamati hasil kerja mereka,
baik pada pasangan pertama maupun hasil kerjanya pada saat pasangan mereka yang
ke dua, apa ada perbedaan atau terdapat persamaan
Contoh: Adi dan Budi mereka satu kelompok yaitu di
kelompok buah Apel, sedangkan Dodi dan Agus mereka satu kelompok yaitu di
kelompok buah Mangga. Kedua kelompok mengerjakan tugas menyusun Puzzle Buah
Mangga. Setelah selesai, hasil kerja mereka ditempelkan di dinding. Kemudian
tahap berikut mereka bertukar pasangan, Adi dapat berpasangan dengan Dodi,
sedangkan Budi berpasangan dengan Agus. Tugasnya dapat sama dapat pula berbeda
dengan tugas yang pertama tadi.
c. Metode Berkepala Bernomor
bertukar pasangan
Metode berkepala bernomor termasuk salah satu bentuk model pembelajaran
yang sering dipakai oleh pendidik/ guru PAUD. Metode ini dapat menstimulasi
perkembangan fisik motorik, kognitif, bahasa, sosial, emosianal, moral dan
kepribadian anak. Hal ini akan terlihat ketika anak belajar dalam kelompok yang
mendorong berkembangnya aspek-aspek perkembangan tersebut.
Metode ini di rancang guru memberi kesempatan kepada anak
untuk saling tukar pendapat/ jawaban dan mendorong semangat kerjasama dalam
suasana bermain.
Langkah yang dapat dilakukan oleh guru/ pendidik PAUD dalam menerapkan metode
ini adalah:
1. Guru membagi
anak dalam beberapa kelompok
2. Setiap anak
dalam setiap kelompok di beri nomor. Contoh Kelompok A. Dengan jumlah anggota 4
orang, maka anak dalam kelompok A ini deberi nomor ada bernomor 1, adapula
bernomor 2, 3 dan 4. Begitu juga untuk kelompok B dengan jumlah ada 4 misalnya
mereka juga diberi nomor, ada nomor 1, ada nomor 2, 3, 4
3. Tugas yang
diberi kepada setiap kelompok. Tugas tersebut dapat sama untuk setiap kelompok
dapat pula berbeda. Tugas itu telah dirancang dengan diberi nomor 1, 2, 3,dan 4
4. Anak
mengerjaka tugas disesuaikan nomor urut tugas dengan nomor urut yang
dimilikinya.
5. Setelah selesai
masing-masing anak yang mendapat tugas yang sama dapat saling mencocokkan
pekerjaannya, dapat dengan cara menempelkan atau menyampaikan di depan
kelas.
Contoh: Adi bernomor 1 dan Budi bernomor 2 mereka satu
kelompok yaitu di kelompok buah Apel, sedangkan Dodi bernomor 1dan Agus
bernomor 2 mereka satu kelompok yaitu di kelompok buah Mangga. Kedua kelompok
mengerjakan tugas menyusun Puzzle Buah Mangga. Setelah selesai, hasil kerja
mereka ditempelkan di dinding. Kemudian tahap berikut mereka bertukar pasangan,
Adi yang bernomor 1 di kelompok buah Apel berpasangan dengan Dodi yang
juga bernomor 1 di keompok buah Mangga. Tugasnya dapat sama dapat pula berbeda
dengan tugas yang pertama tadi.
d. Metode Proyek
Metode proyek merupakan salah satu metode yang sering digunakan pada
proses pembelajaran anak usia dini termasuk TK. Metode ini memberikan
pengalaman belajar pada AUD melalui bermain bersama dalam kelompok yang dikenal
dengan konsep ”learning by doing”. Metode ini termasuk salah satu penerapan
model pembelajaran kooperatif. Menggunakan metode proyek, anak melatih anak
bekerjasama, bertanggungjawab, dan mengembangkan kemampuan sosial.
Pelaksanaan metode ini ditempuh tiga tahap, yakni 1).
tahap pendahuluan (yang disebut juga tahap persiap oleh guru), 2). tahap
penyelidikan atau pengamatan, dan 3). Tahap presentasi.
1). Tahap pendahuluan, guru membentuk anak dalam
kelompok, menjelaskan tugas kepada anak pada setiap kelompok, (satu anak
mengamati daun, yang lain mengamati batang, kemudian mengamati uratnya, baik
berkaitan warna, bentuk, ukurannya).
2). Tahap pengamatan, masing-masing anak melakukan tugas
yang sesuai dengan pembagiannya, serta melakukan pencatatan.
3). Pada tahap presentasi, setelah selesai anak
menyampaikan apa yang mereka temukan.
Pemilihan topik hendaknya disesuaikan dengan
minat,menarik, yang sudah fameliar bagi anak, serta menyenangkan.
Contoh. Kelompo A terdiri dari 5 orang anak, bertugas
mengamati batang pisang
Kelompok B terdiri dari 4 orang bertugas mengamati daun pisang,
Kelompok C terdiri dari 5 orang bertugas mengamati buah pisang’
Setelah selesai setiap kelompok bertanggung jawab mempresentasikan
hasil pengamatan di kelas
Tugas kelompok ini dapat dalam bentuk membuat sesautu, seperti membangun gedung
dari balok dalam pembuatan mereka bekerja secara gotong royong.
e. Metode Jigsaw
Metode pembelajaran jigsaw dapat digunakan dalam proses pembelajaran di PAUD.
Proses pembelajaran dengan metode ini anak-anak dirancang dalam kelompok dengan
suasana bermain. Metode ini lebih menekankan untuk menstimulasi pengausaan
keterampilan mendengar, berbicara,membaca dan menulis. Memang metode ini lebih
tepat untuk anak yang telah memiliki pemahaman dan yang dapat mengolah
informasi.
Langkah-langkah penggunaan metode jigsaw ini adalah sebagai berikut;
1. Guru membentuk
anak dalam kelompok- kelompok seperti kelompok A, B dan C, yang masing-masing
kelompok terdiri dari 2 atau 3 orang anak. Masing-masing anak tersebut di beri
nomor, begitu juga untuk kelompok lainnya
2. Selanjutnya
guru memberi bahan/ tugas untuk masing-masing anak di setiap kelompok.
3. Tugas yang
diberikan berbeda setiap anak yang ada dalam satu kelompok. Seperti untuk anak
no 1 berbeda dengan anak no 2 begitu juga untuk anak no 3.
4. Setelah
masing-masing anak mendapat tugas, maka anak nomor urut 1 dari kelompok satu
(1) bergabung dengan anak no urut 1 dari kelompok B mengerjakan tugas no satu
(1), begitu pula anak no urut 2 bergabung dari kelompok A bergabung dengan anak
no 2 kelompok B untuk mengerjakan tugas no 2 , begitu selanjutnya.
5. Setelah selesai
mereka mengerjakan tugas, selanjutnya masing-masing kelompok menyampaikan hasil
kerjanya dapat berupa menempelkan atau membacakan di depan kelas.
Pembelajaran
Kontekstual
Pembelajaran
kontekstual yang dikenal dengan CTL (Contextual Teaching and Learning )
merupakan salah satu strategi pembelajaran lebih banyak mendorong keterlibatan
siswa secara aktif dalam proses pembelajaran. CTL merupakan
suatu bentuk strategi pembelajaran yang memandang pentingnya hubungan antara
materi pelajaran dengan kehidupan nyata. Pembelajaran CTL ini saat ini
banyak diterapkan oleh guru/pendidik dimulai dari TK/PAUD sampai perguruan tinggi.
Sebenarnya pembelajaran di anak usia dini/TK sudah menerapkan dan menggunakan
pembelajaran CTL yang lebih dikenal dengan ”tematik”. Berbagai objek yang ada
di sekitar kehidupan anak baik berupa kejadian, dan isu yang menarik dapat
diangkat sebagai ”tema” pembelajaran melalui ”bermain sambil belajar atau
belajar seraya bermain”. Dalam pembahasan berikut akan mengajak anda untuk
mendorong mengetahui apa yang dimaksud dengan pembelajaran CTL, bagaimana
karakteristiknya, bagaimana langkah-langkah penerapannya
1. Konsep CTL
CTL adalah suatu strategi pembelajaran yang menekankan
kepada proses keterlibatan siswa secara penuh untuk dapat menemukan materi yang
dipelajari dan menghubungkannya dengan situasi kehidupan nyata sehingga
mendorong siswa untuk dapat menerapkanya dalam kehidupan mereka (Sanjaya,
2008).
Pendekatan pembelajaran CTL ini bukanlah merupakan hal
baru, ide pembelajaran kontekstual ini sudah lama dikembangkan oleh paham
konstruktivisme yang selanjutnya dikembangkan ahli psikologi kognitif sejak
puluhan tahun yang lalu seperti Piaget. Menurut aliran ini bahwa proses belajar
terjadi karena pemahaman anak /siswa terhadap akan lingkungannya. pengetahuan
diperoleh dari proses mengkonstruksi melalui pengalaman. Jadi ilmu pengetahuan
dibangun dalam diri seorang individu melalui proses interaksi dengan
lingkungannya, jadi tidak datang sendiri tapi melalui mengkonstruksi pengalaman
yang dialami sendiri dengan lingkungannya. Piaget (1993) mengatakan bahwa
proses belajar sebenarnya terdiri dari tiga tahapan yaitu: (1) asimilasi; (2)
akomodasi; dan 3) equilibrium.
Proses asimilasi adalah suatu
proses dimana anak menyatukan pengetahuan yang baru diterima ke struktur
kognitif yang sudah ada dalam benak anak. Akomodasi adalah
penyesuaian struktur kognitif ke dalam situasi yang baru. Equilibrium
adalah proses penyesuaian antara asimilasi dan akomodasi. Lebih lanjut
Piaget mengatakan bahwa sebenarnya seseorang sejak bayi telah memiliki
struktur kognitif, kemudian strukur ini disebutnya sebagai skema. Skema
terbentuk karena pengalaman.
Perhatikan contoh berikut ini bagaimana terbentuknya
pengetahuan. Seorang anak merasa sakit karena tersayat ”pisau” yang
dimainkannya. Berdasarkan pengalaman itu terbentuk skema (struktur kognitif)
anak tentang pisau, bahwa pisau adalah sesuatu yang menyakitkan, membahayakan,
karenanya pisau harus dihindari, dijauhi, bahkan sebagian anak melihat pisau
saja ia sudah menjerit-jerit ketakutan. Sebelum anak memperoleh pengalaman baru
tentang pisau setiap melihat pisau tetap menghindar, menjerit. Sejalan dengan
bertambahnya eksplorasi terhadap lingkungan ia memperoleh pengalaman baru
tentang pisau. Ia melihat pisau digunakan oleh ibunya mengupas mangga, memotong
sayuran. Dari pengalaman baru itu, terbentuk skema baru dalam struktur kognitif
anak tentang pisau bahwa pisau tidak selalu harus dihindari, dijauhi, ditakuti
melainkan ada gunanya. Proses penyempurnaan pengetahuan baru ini menurut piaget
disebutnya sebagai proses assimilasi. Sejalan dengan proses perkembangan anak,
maka bertambah pula pengalamannya, ia melihat kenyataan bahwa pisau banyak
digunakan dalam kehidupan seperti selain di rumah, di restoran, di pasar
daging, dan lainnya maka terbentuklah skema baru lagi tentang pisau dalam struktur
kognitifnya, bahwa pisau bukan hanya ada manfaatnya tetapi sangat dibutuhkan
untuk kehidupan manusia di lingkungan dalam memenuhi kebutuhan di berbagai
setting/tempat.
Dari contoh di atas, tampak dengan jelas bahwa
pengetahuan terbentuk dari proses mengkonstruksi pengalaman nyata dialami
seseorang anak. Sebenarnya banyak contoh-contoh seperti
konsep tentang api, air, angka, bilangan, perkalian, kucing, cacing,
burung dan seterusnya.
2. Karakteristik CTL
Clifford dan Wilson (dalam Suyanto, 2005) mendeskripsikan
beberapa karakteristik yang harus diperhatikan dalam penerapan CTL yaitu
sebagai berikut.
a. Menekankan
adanya pemecahan masalah (problem solving). Dalam pembelajaran hendaknya
ada persoalan yang dikaji. Persoalan tersebut hendaknya riil, menarik,
menantang dan bermakna bagi siswa. Tiap kelompok dapat mencari solusi pemecahan
dengan cara masing-masing, sehingga hasilnya akan lebih variatif (tidak menuju
satu ke satu jawaban benar)
b. Pembelajaran
terjadi di bi berbagai konteks (multiple contexs). Pembelajaran tidak
menonton di kelas. Pembelajaran dapat terjadi dimana saja , seperti di sawah,
di ladang, di bengkel, di industri. Pengajaran tidak selalu guru, petani,
pedagang, pembuat roti, peternak, dokter atau orangtua siswa yang memiliki
keahlian khusus dapat menjadi pengajar
c. Membimbing
siswa untuk memonitor hasil belajarnya sehingga ia mampu belajar secara
mandiri. Siswa dibimbing bagaimana cara belajar (learning how to lern)
agar kelak dapat belajar secara mandiri. Bila anak bertanya suatu istilah, guru
tidak harus menjawabnya, tetapi memberikan kamus dan mengajari anak bagaimana
menemukan arti istilah tersebut
d. Pembelajaran
menggunakan berbagai ragam kehidupan siswa sebagai titik pijak. Siswa berasal
dari berbagai daerah dengan latar belakang sosial dan budaya yang berbeda.
Pengetahuan awal, budaya, cita-cita dan tipologi masyarakatnya menjadi
modalitas belajar.
e. Mendorong siswa
untuk saling belajar dengan temannya. Belajar adalah proses individual, tetapi
cara anak belajar dapat dilakukan melalui kegiatan kelompok agar dapat saling
bertukar pikiran, ide, dan rasa antar siswa.
f. Menerapkan otentik asesmen
(authentic assessment). Evaluasi tidak bertujuan memberi nilai dan label setiap
anak. Asesmen bertujuan untuk mengetahui sejauhmana siswa belajar dan
bagaimana cara dia belajar paling baik. Dengan demikian guru dapat
memberi bantuan kepada siswa untuk mengembangkan potensinya secara optimal.
Dialog antara guru dengan siswa akan kemajuan belajarnya erlu dilakukan agar
siswa mengevaluasi diri sendiri. Portofolio hasil presentasi, hasil-hasil
lomba, dan karya siswa dibangun bersama antara siswa dan guru.
Sanjaya (2008) mengatakan dalam proses pembelajaran
menggunakan pendekatan CTL ada lima (5) karakteristik yang harus diperhatikan
seperti berikut ini:
a. Dalam CTL
pembelajaran merupakan proses pengaktifan pengetahuan yang sudah ada (activiting
knowledge), artinya apa yang akan dipelajari tidak terlepas dari
pengetahuan yang sudah dipelajari, dengan demikian pengetahuan yang akan
diperoleh siswa adalah pengetahuan yang utuh yang dimiliki keterkaitan satu
sama lain
b. Pembelajaran
kontekstual adalah belajar dalam rangka memperoleh dan menambah pengetahuan
baru (acquiring knowledge). Pengetahuan baru itu diperoleh dengan cara
deduktif, artinya pembelajaran dimulai dengan mempelajari secara keseluruhan,
kemudian memperhatikan detilnya.
c. Pemahaman
pengetahuan (understanding knowledge), artinya pengetahuan yang
diperoleh bukan untuk dihafal tapi untuk dipahami dan diyakini, misalnya dengan
cara meminta tanggapan dari yang lain tentang pengetahuan yang diperolehnya dan
berdasarkan tanggapan tersebut baru pengetahuan itu dikembangkan.
d. Mempratekkan
pengetahuan dan pengalaman tersebut (applying knowledge), artinya
pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh harus dapat diaplikasikan dalam
kehidupan siswa, sehingga tampak perubahan perilaku siswa.
e. Melakukan
refleksi (reflecting knowledge) terhadap strategi pengembangan pengetahuan.
Hal ini dilakukan sebagai umpan balik untuk proses perbaikan dan penyempurnaan
strategi.
Berdasarkan uraian di atas, bahwa dalam penerapan
pembelajaran dengan pendekatan kontekstual hendaknya melalui: (1) merencanakan;
(2) mengimplementasikan; (3) merefleksikan; (4) menyempurnakan pembelajaran;
dan (5) asesmen dengan memperhatikan:
a. Pembelajaran
dimulai dari pengetahuan yang sudah ada pada anak
b. Materi yang
dipelajari hendaknya merupakan pengembangan dari pengetahuan yang sudah ada dimiliki
anak
c. Pengetahuan
yang baru diperoleh bukan hanya sekedar ingatan melainkan dapat dipahami bahwa
pengetahuan tersebut memiliki manfaat bagi kehidupannya
d. Pengetahuan
tersebut dapat diterapkan dalam berbagai setting, seperti rumah , sekolah,
masjid, pasar, bandara, sawah, pabrik.
e. Pembelajaran
dengan memperhatikan kebutuhan individu anak, kemudian berbasis masalah,
berbasis inquiry, berbasis tugas, dan berbasis kelompok
Guru dalam merencanakan berpedoman kepada konsep DAP (development
approute practice) kondisi sosial emosional, kognitif, fisik motorik dan
bahasa, dilakukan dalam bentuk kelompok/ area/sudut yang disetting dalam
kelompok kecil dan besar.
3. Langkah-Langkah Pembelajaran Kontekstual untuk TK/PAUD
Berdasarkan uraian terdahulu bahwa pembelajaran
kontekstual hendaknya berdasarkan masalah, berdasarkan inquiry, berdasarkan
tugas/proyek, dan berdasarkan kelompok. Untuk mencapai kompetensi tersebut
dengan pendekatan pembelajaran kontekstual, maka guru hendak melakukan langkah-langkah
pembelajaran sebagai berikut.
a. Tahap Persiapan
1)
Pengantar
Menginformasikan
kepada semua anak tujuan dari kegiatan pembelajaran, metode pembelajaran yang
digunakan, langkah-langkah, aturan dalam melakukan kegiatan pada pembelajaran
serta memberikan motivasi belajar
2) Memilih
Tema
Guru
bersama-sama anak berdiskusi, bertukar pikiran untuk memilih tema apa yang akan
dipilih, kegiatan apa saja yang akan dilakukan yang berkaitan dengan tema
tersebut. Gunanya adalah untuk membuat skema/struktur kognitif anak terbentuk
terhadap tema sehingga memudahkan melakukan kegiatan secara keseluruhan.
Contoh
Tema
: Aku,
Sub tema ;
Ulang tahunku
Kegiatan
yang akan dilakukan : Membuat kalimat ulang tahun dengan menempelkan huruf,
menghias kue ulang tahun dengan plastisin, Membuat topi ulang tahun dari
karton, mendekorasi ruangan yang akan dipakai, meniup balon dan
sebagainya
3)
Mengorganisir Siswa
Guru
mengorganisir anak dalam beberapa kelompok-kelompok kecil. Kemudian setiap
kelompok diminta memilih kegiatan apa yang akan dilakukan yang berdasarkan tema
yang telah ditetapkan bersama.
Contoh : Guru membagi anak beberapa kelompok
Kelompok Jambu : tugasnya membuat
topi
Kelompok Mangga : tugasnya membuat kue
Kelompok Apel :
tugasnya membuat kalimat ulang tahun
Kelompok Jeruk :
tugasnya mendekor ruangan
4) Membuat perencanaan
Guru bersama-sama anak merencanakan kegiatan yang akan
dilakukan yang sesuai dengan tema dan bentuk kegiatan yang telah ditentukan
terdahulu yang dimulai dari langkah pertama sampai tahap penyelesaian .
b. Tahap
Pelaksanaan
1) Tahap Bekerja
Pada tahap ini semua kelompok siap melakukan kegiatan
sesuai dengan yang telah disepakati, guru memonitor dan membantu bila ada yang
mengalami kesulitan dengan memberikan arahan /petunjuk
2) Tahap Presentasi
Tahap ini semua kelompok telah menyelesaikan pekerjaan
sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan dan hasil kerja anak
dipamerkan/diperlihatkan/ dipajang
c. Tahap
Penutup/Penilaian
Pada tahap penutup biasanya guru melakukan recalling
terhadap pengalaman bermain sambil kerja atau bekerja sambil bermain setiap
anak
Pembelajaran
Moving Play
Model pembelajaran moving play anak belajar dalam kelas(tempat belajar) yang
berpindah dari satu ruangan ke ruang yang lain ( Ruang A, Ruang B dan Ruang C)
dengan materi yang berbeda
Teknis
pelaksanaan pembelajaran ini anak di bagi ke dalam beberapa kelompok. Kelompok
tersebut bisa tiga atau lebih sesuai dengan kondisi dan kebutuhan.
Masing-masing kelompok secara bergantian masuk kedalam rungan satu ke ruang
yang lain pada hari/ kesempatan lain pada hari berikutnya
Kelebihan model
moving play :
1.
Anak mendapat
perhatian lebih dari guru
2.
Tingkat
kebosanan anak dapat diminimalkan
3.
Potensi dan kemampuan
anak dapat teraktualisasikan
4.
Anak
mendapatkan kesempatan banyak dalam mencoba permainan
5.
Bakat anak
dapat terdeteksi secara dini
Kelemahan model
ini
1.
Memerlukan
ruang yang cukup
2.
Memiliki guru
yang terlatih
3.
Memiliki
fasilitas yang cukup untuk memenuhi kebutuhan anak
0 komentar :
Post a Comment